Padang Panjang — Program Studi Pariwisata Institut Seni Indonesia Padangpanjang melaksanakan kegiatan Study Lapangan Sosiologi-Antropologi dan Ekonomi Pariwisata bertajuk Cultural Expedition di Kompleks Candi Muaro Jambi dan Sanggar Topeng Labu, Provinsi Jambi, pada 30 April hingga 3 Mei 2026.
Kegiatan yang diikuti sebanyak 101 peserta, terdiri dari 98 mahasiswa dan 3 dosen pendamping, menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengalaman lapangan (experiential learning) dalam mata kuliah Sosiologi-Antropologi Pariwisata dan Ekonomi Pariwisata.

Kompleks Candi Muaro Jambi yang dikenal sebagai kawasan percandian Buddha terbesar di Asia Tenggara dipilih sebagai lokasi utama observasi budaya dan sosial masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami keterkaitan antara warisan budaya, kehidupan sosial masyarakat, serta potensi ekonomi pariwisata yang berkembang di kawasan tersebut.
Ketua rombongan kegiatan menjelaskan bahwa Cultural Expedition menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk melihat bagaimana budaya hidup dan bertahan di tengah perubahan zaman.
“Melangkah mundur ke masa lalu untuk memahami masa depan. Berdiri di antara kemegahan Candi Muaro Jambi memberi ruang untuk merenungi bagaimana budaya dibentuk dan bertahan melintasi zaman,” ungkap peserta kegiatan.
Selain melakukan observasi di kawasan percandian, mahasiswa juga mengunjungi Sanggar Topeng Labu untuk mempelajari ekspresi budaya lokal melalui seni topeng tradisional. Di lokasi tersebut, mahasiswa menyaksikan secara langsung proses kreatif, filosofi, hingga nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan melalui karya seni.
“Setiap goresan dan lekukan topeng menyimpan cerita tentang identitas dan kearifan lokal yang tak lekang oleh waktu. Dari Muaro Jambi kita belajar bahwa merawat tradisi adalah cara terbaik untuk menghormati leluhur,” lanjutnya.

Kegiatan ini dibimbing oleh dosen pengampu:
- Maulid Hariri Gani, S.S., M.Hum., untuk mata kuliah Sosiologi-Antropologi Pariwisata;
- Dr. Muhammad Refki Novesar, S.E., M.S.M., untuk mata kuliah Ekonomi Pariwisata;
- serta Naufal Hibatullah, S.Par., M.Par., sebagai pendamping lapangan.
Dosen pengampu mata kuliah Sosiologi-Antropologi Pariwisata, Maulid Hariri Gani, S.S., M.Hum., menyampaikan bahwa pembelajaran lapangan menjadi bagian penting dalam membangun sensitivitas mahasiswa terhadap budaya dan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa pariwisata tidak cukup hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga harus mampu membaca realitas sosial dan budaya secara langsung di lapangan.
Sementara itu, Dr. Muhammad Refki Novesar, S.E., M.S.M., menambahkan bahwa kawasan wisata berbasis budaya seperti Muaro Jambi memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berkelanjutan.
“Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai hubungan antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata,” ujarnya.
Melalui Cultural Expedition ini, Institut Seni Indonesia Padangpanjang terus menghadirkan pendidikan seni dan pariwisata yang kontekstual, berbasis budaya, serta selaras dengan penguatan identitas dan kearifan lokal Indonesia.






