Padangpanjang — Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum., menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas pencapaian seniman Indonesia asal Sumatera Barat, Ibrahim, yang sukses menggelar pameran tunggal internasional bertajuk “Jiwa Tak Berujung, Rasa Tak Bertepian” (An Endless Soul, a Boundless Feeling) di Gajah Gallery Manila, Filipina, pada 9–24 Mei 2026.
Pameran tersebut menjadi momentum penting bagi perkembangan seni rupa Indonesia di tingkat internasional sekaligus memperlihatkan bahwa karya dan gagasan seniman Indonesia mampu hadir dan diperhitungkan dalam ruang seni global melalui bahasa visual yang universal.
Pameran ini turut mendapat dukungan kuratorial dari kurator asal Filipina, Alain Zedrick Camiling, yang memberikan perspektif lintas budaya dalam membaca karya-karya Ibrahim. Kehadiran kurator internasional tersebut semakin memperkuat posisi pameran sebagai ruang dialog seni Asia Tenggara yang terbuka dan dinamis.

Rektor ISI Padangpanjang Dr. Febri Yulika menyebut capaian tersebut sebagai kebanggaan tidak hanya bagi Sumatera Barat, tetapi juga bagi dunia seni dan budaya Indonesia secara umum.
Menurutnya, kehadiran Ibrahim dalam panggung seni internasional menunjukkan bahwa seniman Indonesia memiliki kualitas, karakter artistik, dan kekuatan narasi budaya yang mampu berdialog dengan masyarakat dunia.
“Pameran tunggal internasional ini menjadi bukti bahwa seni Indonesia memiliki daya hidup yang kuat dan mampu menembus batas geografis maupun budaya. Kami di ISI Padangpanjang merasa bangga atas pencapaian Ibrahim yang membawa semangat, identitas, dan kekayaan rasa dari Indonesia ke ruang seni internasional,” ungkap Dr. Febri Yulika.
Ia menambahkan, sebagai institusi pendidikan tinggi seni dan budaya, ISI Padangpanjang memandang keberhasilan tersebut sebagai inspirasi besar bagi generasi muda kreatif untuk terus berkarya, berinovasi, dan percaya diri membawa identitas budaya Indonesia ke tingkat global.

Sementara itu, Ibrahim menyampaikan bahwa pameran “Jiwa Tak Berujung, Rasa Tak Bertepian” merupakan refleksi perjalanan batin, pengalaman hidup, dan pencarian makna yang dituangkan melalui karya-karya visual yang personal sekaligus universal.
Menurutnya, seni menjadi medium untuk menyampaikan rasa, ingatan, dan hubungan manusia dengan ruang kehidupan yang terus berkembang tanpa batas.
“Melalui pameran ini saya ingin menghadirkan ruang dialog tentang rasa dan jiwa manusia yang tidak pernah selesai. Seni bagi saya adalah bahasa yang mampu melintasi batas negara, budaya, dan bahasa verbal,” ujar Ibrahim.
Kehadiran karya-karya Ibrahim di Manila dinilai tidak sekadar merepresentasikan perjalanan artistik seorang perupa, melainkan juga memperkuat posisi seni rupa Indonesia sebagai bagian penting dalam percakapan budaya Asia Tenggara dan dunia.
ISI Padangpanjang, lanjut Rektor, terus berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem seni rupa Indonesia melalui pendidikan, kolaborasi, riset, dan penguatan jejaring internasional bagi para seniman muda.
“Capaian ini menjadi energi positif bagi mahasiswa dan generasi muda seni untuk terus belajar, berproses, dan berani menghadirkan karya yang berakar pada budaya sendiri namun memiliki daya jangkau global,” tambahnya.
Melalui momentum tersebut, ISI Padangpanjang juga mengapresiasi seluruh pihak yang terus membuka ruang kolaborasi dan memperkuat diplomasi budaya melalui seni, sehingga karya-karya seniman Indonesia dapat semakin dikenal dan diapresiasi di tingkat internasional.
Pameran “Jiwa Tak Berujung, Rasa Tak Bertepian” menjadi simbol bagaimana seni mampu melampaui batas bahasa dan negara, menghadirkan ruang dialog tentang rasa, identitas, dan kemanusiaan dalam perspektif universal.
