Sherli Novalinda : Meniti Jejak Tubuh

Padangpanjang – Meniti Jejak Tubuh merupakan karya tari koreografer Sherli Novalinda ini tampil pada acara Dies Natalis ISI Padangpanjang ke-52 (30/11).  Sebelumnya karya tari ini telah dipentaskan 8 kali di berbagi event di Indonesia. Pertunjukan tari yang merupakan sebuah riset auto-ethography Sherli terhadap dirinya sendiri ini mampu membuai pandangan penonton yang memenuhi gedung pertunjukan. Pada 6 Desember 2017 nanti Meniti Jejak Tubuh akan mewakili Indonesia pada Europalia Arts di Brussels-Belgium.

Sherli Novalinda mewarisi darah campuran Kerinci dan Sumatera Barat. Dosen termuda prodi seni tari ISI Padangpanjang ini telah memulai perjalanan kekaryaanya sebagai penari dan koreografer semenjak 15 tahun lalu. Hingga saat ini karya-karyanya telah dipentaskan di forum nasional dan internasional.

Sherli Novalida menjelaskan “karya Meniti Jejak Tubuh ini merupakan sejarah tubuh dari diri sendiri. Pengalaman tubuh serta memori kultural dari darah Kerinci, dan berproses di tengah-tengah budaya Minangkabau inilah yang menggerakkan saya untuk melakukan riset terhadap tubuh sendiri. Mentransformasikan ke tubuh orang lain sengaja dilakukan karena jikalau tubuh saya sendiri ya itu tetap saya. Karena itulah tubuh orang lain dipergunakan, tubuh yang berbeda gender dan latar budaya dengan dirinya, sebagai objek sekaligus subjek eksperimentasinya. Penari laki-laki , yaitu Kurniadi Ilham sengaja dipilih karena yang dibutuhkan laki-laki yang kuat tradisinya agar tidak labil saat dimasuki sesuatu yang baru dari tubuhnya”, jelas ibu dua anak ini saat dijumpai selesai pertunjukan.

“Simbol pewarnaan setting yang dihadirkan awalnya merupakan pemaduan dua budaya, yaitu  Kerinci dan Minang. Saat masuk ke garis yang ada dengan menggunakan pakaian sehari-hari ini sudah merupakan simbol, hal ini menggambarkan orang saat ini yang kembali ke tradisi dan balik lagi ke dirinya. Musik yang dihadirkan merupakan stimulasi, pengantaran tubuh penari yang dilempar kesana-sini. Penari yang awalnya dibawa ke satu suasana lalu dilempar ke suasana lain. Penggambaran ini memancing penari agar mampu mengeluarkan memori paling jujur dari tubuhnya”, tambah Sherli Novalinda.

“Alasan saya memilih tubuh laki-laki juga karena di Kerinci tidak ada penari yang laki-laki, berbeda dengan Minang yang memiliki penari laki-laki. Tentang Meniti Jejak Tubuh yang terpilih sebagai perwakilan Indonesia pada festival paling bergengsi di dunia ini juga merupakan sesuatu yang sangat berkesan bagi saya karena rata-rata karya yang terpilih merupakan karya-karya dari maestro”, tuturnya menutup wawancara.

Saat ini Sherli Novalinda tengah intens dengan trilogy tarinya, Memoirs, yang merupakan trilogy kedua setelah Meniti Jejak Tubuh. Selain belajar tari di institusi formal, ia juga mempedalam ilmunya dengan pengalaman berkarya dan pertemuannya dengan berbagai tokoh, seperti Tom Ibnur, Lin Hwai Min, Sardono W. Kusumo, Sal Murgiyanto, Ery Mefri, Eko Supriyanto, Hartati, Arco Renz, Isabelle Schad, dan sejumlah tokoh tari berpengaruh lainnya.

Penulis : Puja

Dokumentasi : UPT Pusindk SBM