Seminar Galeri Nasional di ISI Padangpanjang Diharapkan Berbuah Asosiasi

Padangpanjang—Gelombang perubahan mewarnai dunia seni dengan berbagai tantangannya,  hal ini diharapkan memperkaya khazanah kekaryaan bagi para seniman rupa Indonesia. Tentu saja dalam tujuan untuk membangun dan mengembangkan kekayaan budaya nasional. Hal ini terungkap dalam seminar nasional bertajuk “Cita Rasa : Saeni Rupa di Era Pluralisme Estetik” besutan Galeri Nasional bekerjasama dengan Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Seminar yang berlangsung  pada tanggal 18 s.d. 19  Juli 2018 ini menghadirkan 10 orang pembicara dengan kapasitas dari berbagai disiplin. Tidak hanya praktisi saja, para akademisi, peneliti, kritikus, hingga ulama pun dihadirkan.

Dalam kata sambutannya pada pembukaan yang berlangsung di lantai III Rektorat ISI Padangpanjang, rektor ISI Padangpanjang Prof. Dr. Novesar Jamarun, MS menyambut baik dipilihnya institut yang ia pimpin sebagai lokasi penyelenggaraan seminar penting ini. “Kami sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Galeri Nasional dengan digelarnya seminar penting ini di sini. Tentu kami berharap ini bukan kerjasama terakhir yang terjalin antara kedua belah pihak. Semoga di masa depan akan semakin banyak kegiatan yang dapat kita gelar bersama dengan Galeri Nasional,” katanya.

Rektor juga mengharapkan kepada para peserta untuk benar-benar menjadikan momentum ini sebagai ajang untuk menggali lebih dalam berbagai pengetahuan tentang seluk beluk estetika seni rupa, khususnya yang berkembang di Indonesia. Selain itu, Prof Novesar Jamarun juga mengharapkan agar dalam ajang ini dapat tercetus lahirnya sebuah Asosiasi Seni Rupa se-Indonesia. “Kita sangat membutuhkan asosiasi ini karena akan sangat berguna bagi upaya bersama membangun seni rupa kita. Selama ini kita masih terpisah-pisah, maka itu diperlukan sebuah wadah untuk saling bertukar ide dan pengalaman serta menggalang kekuatan yang lebih besar bagi pengembangan seni rupa kita,” katanya.

Rektor juga menekankan apresiasi yang besar terhadap kehadiran para pemateri yang berasal dari berbagai level generasi. “Ini sebuah seminar yang pastinya luar biasa karena menghadirkan pemateri dari berbagai level generasi. Ada generasi tua dan muda. Disinilah kita dapat mengukur perkembangan seni rupa kita dari kacamata yang lebih objektif,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Galeri Nasional Drs. Pustanto, MM dalam kata sambutannya menjabarkan sejarah berdirinya galery Nasional. Setelah 20 tahun, kini gelary Nasional semakin mengembangkan diri baik di ranah kekaryaan maupun kajian pengetahuan seni rupa itu sendiri. Kegiatan yang dilaksanakan, sebutnya, tidak hanya di Jakarta dimana Galery Nasional itu sendiri berdiri, tetapi juga di beragai daerah. “Seminar estetik ini adalah salah satu kegiatan unggulan kita. Kini telah memasuki pelaksanaan keempat setelah sebelumnya sukses dilaksanakan 3 kali di berbagai derah lainnya,” katanya.

Sebagai lembaga budaya negara yang bernaung di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Galeri Nasional kata Pustanto mengemban tugas dan fungsi yang cukup vital. “Tugas dan fungsi tersebut antara lain menyelenggarakan pengkajian, pelaksanaan layanan edukasi, kemitraan, serta pendokumentasian dan publikasi di bidang seni rupa.

“dalam merealasikan tugas dan fungsi tersebut, langkah yang ditempuh salah satunya adalah menggelar seminar estetik yang dijadikan agenda tahunan,” katanya. Terkait dengan tema seminar, Pustanto menjelaskan bahwa cita rasa adalah tilikan kajian yang paling penting serta mendasar dalam bidang kajian filsafat keindahan atau estetika. Berbagai diskjusi tentang pemikiran dan pengalaman mengenai keindahan, pada akhirnya akan juga merujuk pada simpul pemahaman yang dikenal dengan cita rasa.

“Kami berharap seminar estetik kali ini dapat menjadi modai pengembangan wacana seni rupa melalui pertukaran gagasan, informasi, serta pengalaman dari berbagai pihak yang berdedikasi dan berkecimpung di bidang kesenian khususnya dalam dunia seni rupa,” pungkas Pustanto. (Muhammad Fadhli)