RESPON TEATERIKAL TERHADAP SILAT:  PERTUNJUKAN TEATER BAROMBAN DAN MITOS SERTA TUBUH LUMPING

 

Padangpanjang- Rabu ( 21/10/2018) Dalam agenda Silek Arts Festival 2018 – Respon Teaterikal Terhadap Silat, Indonesia Performance Syndicate Padangpanjang ( BAROMBAN DAN MITOS TAMBANG ) Sutradara Wendy H.S dan Teater Payung Hitam Bandung ( TUBUH LUMPING ) Sutradara Rahman Sabur, menyuguhkan pertunjukan teater yang menakjubkan dan sangat        mengapresiasi. Silat sebagai salah satu warisan budaya yang telah menjadi sumber inspirasi  perkembangan berbagai genre seni kotemporer,  di Gedung Hoeridjah Adam ISI Padangpanjang.

Wendy H.S mengatakan “ Saya mencoba memformulasikan satu konsep penciptaan pertunjukan kontemporer sebagai wujud pengembangan elemen Tapuak Galembong dalam tradisi Randai    dalam kebudayaan Minangkabau, yang disebut TOTAL BODY PERFORMANCE.

Praktik pertunjukan umumnya memang tidak lepas dari kesatuan unsur bebunyian, gegerakan,    dan kelakuan. Pilihan formulasi kapasitas ketiga unsur itulah yang membuatnya berbeda, kita   menyebutnya musik ketika bebunyian menjadi unsur utama, begitu juga dengan tari dan teater    ketika unsur gegerakan dan kelakuannya menjadi kapasitas utama pertunjukan. Ucap Sutradara   Indonesia Performance Syndicate Padangpanjang itu Wendy H.S.

Rahman Sabur mengatakan “Kuda lumping sebagai suatu kesenian kultur tradisi budaya Indonesia sama kaitannya dengan Silek di Minangkabau sebagai pertahanan diri seseorang,  bukan hanya untuk berperang dan berkelahi, tetapi sudah menjadi kultur budaya yang  dapat diangkat sebagai sebuah pertunjukan teater yang fokus pada ketubuhan.  Saya mengangkat konsep kuda lumping bukan dari sudut pandang kesurupan dan lain-lainnya, melainkan dari ketubuhannya. Mempertahankan spirit tradisi budaya kita, dan bagaimana cara kita memadukan antara silek dan kuda lumping itu sendiri” Tutur Sutradara teater Payung Hitam saat dijumpai.di sela-sela gladi resik

“Pastinya setiap pertunjukan yang ditampilkan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi karena   rata-rata pertunjukan mereka menggunakan pakaian adat dan ada juga yang membawa ciri khas   budaya daerah mereka masing-masing yang berkaitan dengan gerak tubuh silat” ucap Variza  Oktavia Mahasiwa Seni Teater ISI Padangpanjang.

Rahman Sabur menambahkan “Payung hitam selalu berangkat dari pencarian ketubuhan sudah    lebih dari 27 tahun. Jadi, sampai sekarang ini kita masih melakukan pencarian-pencarian, dan     sampai sekarang tidak pernah selesai. Ini sebahagian kecil dari buah penggalian kami. Konsepsi ketubuhan  di payung hitam itu berakar dari spirit tradisi yang ada di Indonesia bukan teater luar (Barat). Sebutnya.

Wendy H.S menambahkan “ Konsep TOTAL BODY PERFORMANCE ini bertolak dan fokusnya pada totalitas tubuh sebagai sumber utama penciptaan kesatuan bebunyian, pergerakan dan         kelakuan yang internal dari perangkat ketubuhan dalam pertunjukan.

Semoga konsep pertunjukan dalam agenda Silek Arts Festival 2018 – Respon Teaterikal  Terhadap Silat, memiliki nilai yang sangat universal bagi  kebudayaan Indonesia, serta masih  dapat di eksplorasi dan di gali lebih dalam lagi. Semoga konsep pertunjukan teatertikal yang  disuguhkan dapat mengapresiasi banyak kalangan terutama para peminat Teater. (Feby Try A.P)