REKTOR : SENIMAN HARUS SIAP HADAPI REVOLUSI INDUSTRI TAHAP KE 4

ISI PADANGPANJANG BOYONG HILMAR FARID BERI KULIAH UMUM

Tuntutan Kementerian Ristek-Dikti untuk menjadikan lembaga pendidikan tinggi bidang seni sebagai motor penggerak industri kreatif semakin diseriusi oleh ISI Padangpanjang. Setelah sejumlah upaya untuk mengejawantahkan pesan tersebut ke tengah masyarakat, kini untuk internal juga dijadikan sebagai pokok perhatian dalam pembinaan mahasiswa baru. Awal semester ganjil 2018 ini, dibuka dengan kuliah umum bersama Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dengan tema “Kontribusi dan Peluang Sarjana Seni Bagi Pengembangan Seni Budaya Indonesia Memasuki Era Revolusi Industri 4.0”.

Acara yang akan digelar di Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam pada Selasa (3/9) ini diwajibkan untuk diikuti oleh seluruh mahasiswa baru angkatan 2018 dan para dosen di 2 fakultas yang ada. Rektor ISI Padangpanjang Prof Novesar Jamarun mengatakan, kegiatan ini sangat penting artinya bagi peningkatan motivasi para mahasiswa baru dan mahasiswa yang telah menjalani pendidikan di ISI Padangpanjang. “Mereka (para mahasiswa-red) harus memiliki mindset yang jelas dan kuat menghadapi tantangan zaman terutama menghadapi era revolusi Industri tahap ke 4 ini,” katanya.

Dijelaskan oleh rektor, revolusi industri tahap ke 4 adalah wahana berkarya yang sangat terbuka bagi insan seni. Dalam era yang mengedepankan kecepatan informasi dan data, bidang seni dituntut untuk senantiasa dekat dengan dunia digital. “Arus informasi dan data yang terus menerus berlangsung dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk mengembangkan karya menuju pasar yang lebih luas. Revolusi ini menuntut perhatian kita bersama, sebab kehadirannya tidak mungkin kita hindari,” sebutnya. Mereka yang tidak waspada dan siap terhadap revolusi industri 4.0 akan jauh tertinggal atau bahkan terlupakan.

“Dengan adanya fasilitas komunikasi yang makin memperdekat jarak dan mengecilkan ruang dunia, para seniman dituntut untuk menghadirkan karya-karya yang bersentuhan dengan dunia digital,” katanya. Dan jikapun karya-karya tersebut tidak bersentuhan langsung dengan dunia digital, maka dapat di publish, dipromosikan, dijual dan didokumentasikan melalui perangkat digital. “Jadi kita tak perlu takut dengan perkembangan ini. Justru inilah kesempatan kita untuk semakin mengembangkan hasil karya selama ini,” sebutnya.

Seperti halnya banyak pihak, rektor juga merasa optimis masa depan kesenian akan semakin cerah dengan datangnya era revolusi industri 4.0. “Saya sangat optimis dengan kualitas para seniman akademis di kampus kita. Hanya perlu sedikit sentuhan lagi, agar semua siap menghadapi perkembangan digitalisasi menuju abad baru yang penuh dengan inovasi,” katanya.

Hilmar Farid direncanakan akan menyampaikan kuliah umum dihadapan mahasiswa dengan didampingi para petinggi rektorat, dekan-dekan dan disaksikan pula oleh para ketua jurusan serta pihak pascasarjana. Hilmar Farid yang kini menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan adalah seorang alumni Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pada 1994, bersama beberapa seniman, peneliti, aktivis, dan pekerja budaya di Jakarta, ia mendirikan Jaringan Kerja Budaya dan menerbitkan bacaan cetak berkala Media Kerja Budaya.

Pada 2002, Hilmar mendirikan dan memimpin Institut Sejarah Sosial Indonesia hingga 2007. Saat ini ia masih bertindak sebagai ketua dewan pembina organisasi nirlaba tersebut sambil menjadi Ketua Perkumpulan Praxis sejak 2012. Tertarik pada kebudayaan dan sejarah, Hilmar kemudian aktif di Asian Regional Exchange for New Alternatives (ARENA) dan Inter-Asia Cultural Studies Society sebagai editor.(fadhli)

Sumber Foto : Youtube Direktorat Kepercayaan & Tradisi KEMENDIKBUD