Sungai Penuh — Tim Penelitian Disertasi Doktor (PDD) Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dekonstruksi Filosofi Ornamen pada Arsitektur Vernakular Masjid Agung Pondok Tinggi, Sungai Penuh, Jambi”, Sabtu (29/8/2026), di Meeting Room Bukit Kerman II, Grand Kerinci Hotel, Kota Sungai Penuh, Jambi.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari pelaksanaan Penelitian Disertasi Doktor Program Studi S3 Seni, Program Pascasarjana ISI Padangpanjang melalui Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Penelitian, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.

FGD dibuka oleh Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sungai Penuh, Eliya Gusniarti, S.Sos. Forum ini mempertemukan berbagai unsur yang memiliki pengetahuan dan keterkaitan dengan Masjid Agung Pondok Tinggi (MAPT), mulai dari pemerintah daerah, pemuka adat, tokoh masyarakat, pengurus masjid, akademisi, peneliti, budayawan, arsitek, pamong budaya, hingga pemerhati dan penggiat seni tradisi dari Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci.
Dalam sambutannya, Eliya menegaskan bahwa Masjid Agung Pondok Tinggi tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga merupakan warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, arsitektur adat, filosofi, serta kearifan lokal masyarakat Kerinci-Sungai Penuh.
Menurutnya, motif, ornamen, dan tata ruang pada bangunan tradisional tidak semata-mata menjadi unsur estetis, tetapi dapat merepresentasikan pesan dan nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, penelitian mengenai filosofi ornamen Masjid Agung Pondok Tinggi dinilai penting untuk menggali kembali nilai-nilai yang terkandung di balik keberadaan bangunan tersebut.
“Saya berharap diskusi ini tidak hanya menghasilkan kajian akademis, tetapi juga dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian, perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya Kota Sungai Penuh, khususnya Masjid Agung Pondok Tinggi,” ujar Eliya.
Ia juga berharap hasil penelitian dapat menjadi salah satu referensi dalam pengembangan kebijakan kebudayaan, pendidikan, pariwisata budaya, pelestarian arsitektur tradisional, serta penguatan identitas budaya masyarakat Sungai Penuh dan Kerinci.

Menguatkan Data melalui Beragam Perspektif
Penelitian ini diketuai Prof. Dr. Rosta Minawati, S.Sn., M.Si., dengan anggota Dr. Sahrul N., M.Si., Dr. Dra. Mega Kencana, M.Sn., dan Nofrial, S.Sn., M.Sn. Penelitian diarahkan untuk menelusuri filosofi ornamen Masjid Agung Pondok Tinggi, faktor-faktor yang membentuknya, serta perubahan dan transformasi makna yang berlangsung seiring perjalanan masjid dan masyarakat Pondok Tinggi.
FGD menjadi tahapan strategis untuk memverifikasi, memperdalam, dan menguatkan data yang sebelumnya diperoleh melalui penelitian lapangan, wawancara, dokumentasi visual, penelusuran sumber tertulis, serta pengamatan terhadap arsitektur dan ornamen masjid.
Melalui forum ini, berbagai sumber pengetahuan dipertemukan untuk diperiksa dan dibandingkan secara bersama. Pengetahuan masyarakat, pemuka adat, pengurus masjid, pemerintah, dan akademisi menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai perjalanan Masjid Agung Pondok Tinggi.
Pembahasan FGD tidak terbatas pada nama, bentuk, dan makna ornamen. Tim penelitian juga mendalami sejarah pembangunan masjid, perubahan bentuk bangunan, riwayat renovasi, pergantian material, fungsi ruang, teknologi bangunan, status cagar budaya, serta keterlibatan berbagai lembaga dalam upaya pelestariannya.
Sejumlah persoalan sejarah yang masih membutuhkan kepastian turut menjadi bahan pendalaman, di antaranya asal dan waktu pemasangan keramik pada mihrab, bentuk konstruksi masjid pada masa penggunaan lantai papan, kemungkinan keberadaan kolong seperti bangunan semi panggung, hingga kronologi jatuhnya mustaka batu di bagian puncak masjid.

Pada kesempatan ini, Nofrial, S.Sn., M.Sn., anggota tim penelitian, menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan mengungkap filosofi ornamen Masjid Agung Pondok Tinggi dengan melihat keterkaitannya dengan sejarah, arsitektur, adat, dan nilai keislaman. Melalui pendekatan dekonstruksi, penelitian dilakukan dengan membandingkan pengetahuan yang berkembang di masyarakat dengan bukti visual, dokumentasi, riwayat renovasi, dan sumber sejarah. Menurutnya, penelitian ini penting tidak hanya untuk memperkuat kajian akademik, tetapi juga mendukung upaya pelestarian Masjid Agung Pondok Tinggi sebagai warisan budaya.
Lebih lanjut, Nofrial menekankan bahwa penelitian tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kajian akademik, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan upaya pelestarian Masjid Agung Pondok Tinggi. Pelestarian, menurutnya, tidak cukup hanya mempertahankan bentuk fisik bangunan, tetapi juga perlu menjaga pengetahuan, sejarah, nilai budaya, dan makna yang berada di balik arsitektur serta ornamen masjid.
Hal tersebut sejalan dengan arah penelitian yang turut menghimpun informasi mengenai berbagai pihak yang pernah terlibat dalam konservasi, perbaikan, dokumentasi, penelitian, maupun pengembangan Masjid Agung Pondok Tinggi.
Nofrial juga menilai keterlibatan masyarakat, pemuka adat, pengurus masjid, pemerintah, akademisi, budayawan, dan generasi muda menjadi penting dalam memastikan pengetahuan mengenai Masjid Agung Pondok Tinggi tetap terdokumentasi dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menelusuri Transformasi Arsitektur dan Ornamen
Tim juga menggali berbagai bentuk renovasi yang pernah dilakukan, bagian bangunan yang mengalami perubahan, pergantian material, serta pihak-pihak yang terlibat dalam proses renovasi. Perubahan pada atap, lantai, mihrab, struktur kayu, penguatan bangunan, warna, fasilitas, hingga masuknya material dan teknologi baru menjadi bagian penting dalam penyusunan kronologi perubahan MAPT.
Aspek fungsi ruang turut mendapat perhatian, termasuk keberadaan panggung atau anjungan azan di bagian dalam masjid. Penelitian berupaya memastikan fungsi awal panggung tersebut, apakah digunakan untuk azan, iqamah, penyampaian pengumuman kepada jamaah, atau fungsi lainnya, termasuk kapan terakhir digunakan dan kaitannya dengan mulai diterapkannya pengeras suara di masjid.
Kronologi pembuatan ukiran juga menjadi bagian penting dalam diskusi. Tim tidak serta-merta menganggap seluruh ukiran yang ada saat ini berasal dari satu periode pengerjaan. Melalui FGD, peneliti berupaya mengidentifikasi ukiran yang diperkirakan berasal dari masa awal pembangunan, bagian yang dibuat kemudian, serta kemungkinan penambahan, penggantian, atau pengerjaan kembali pada periode renovasi tertentu.
Perbedaan periode pembuatan ukiran dinilai penting karena dapat menunjukkan perubahan latar sosial, keterampilan tukang, bahan, teknik, hingga pemaknaan yang berkembang dari waktu ke waktu.
Selain ornamen, penelitian juga mendalami keberadaan kaligrafi pada bagian-bagian masjid, termasuk identifikasi surat, ayat, lafaz atau teks, lokasi penempatan, waktu pembuatan, serta pertimbangan pemilihannya. Hubungan antara kaligrafi, ornamen, fungsi ruang, adat, dan nilai keislaman menjadi salah satu aspek yang turut dikaji.
Pelestarian Tidak Hanya Menjaga Fisik Bangunan
Perspektif pelestarian menjadi salah satu perhatian utama dalam FGD. Tim menghimpun informasi mengenai lembaga dan instansi yang pernah terlibat dalam konservasi, perbaikan, dokumentasi, penelitian, maupun pengembangan Masjid Agung Pondok Tinggi, termasuk waktu keterlibatan dan bentuk program yang telah dilakukan.
Diskusi kemudian diarahkan pada kebutuhan pelestarian ke depan. Masukan dari masyarakat Pondok Tinggi, pengurus masjid, lembaga adat, pemerintah daerah, instansi kebudayaan, akademisi, dan pemerhati budaya diperlukan untuk merumuskan langkah pelestarian yang mampu menjaga MAPT sebagai tempat ibadah, warisan sejarah, karya arsitektur vernakular, sekaligus bagian penting dari identitas budaya masyarakat Pondok Tinggi dan Kota Sungai Penuh.

FGD turut dihadiri sejumlah tokoh dan pemerhati budaya, di antaranya Drs. Atma Bahar, Depati sekaligus pemuka adat dan tokoh masyarakat Pondok Tinggi; Drs. Rio Januarisdi, akademisi, peneliti, budayawan, dan tokoh masyarakat Pondok Tinggi; Rio Suprawadi dari Lembaga Adat Depati Payung Pondok Tinggi; serta Edi Warman, S.T., M.T. dari BAPPEDA Kota Sungai Penuh.
Hadir pula Drs. Heri Fariadi, guru SMKN 4 Sungai Penuh sekaligus pemerhati dan penggiat budaya bidang rupa dan tradisi; Dedet Antomi, S.Pd., MM, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 4 Sungai Penuh; Antoni Juanda, S.Sn., M.Sn., penggiat dan pemerhati seni tradisi sekaligus generasi penerus Pondok Tinggi; Ibrahim Idris, Pamong Budaya Disbudpar Kabupaten Kerinci; Dr. Ar. Fantoni, S.T., M.T., arsitek, akademisi, dan peneliti dari Akademi Teknik Adikarya Kerinci; serta Indra Gunawan dan Hendi Wisnu Pamungkas, pemerhati dan penggiat seni tradisi Sungai Penuh–Kerinci yang sekaligus bertindak sebagai moderator FGD.
Keberagaman latar belakang peserta menjadi kekuatan tersendiri dalam penelitian. Sebab, pengetahuan mengenai Masjid Agung Pondok Tinggi tidak hanya tersimpan dalam dokumen tertulis, tetapi juga hidup dalam ingatan masyarakat, cerita yang diwariskan antargenerasi, pengalaman pengurus masjid, pengetahuan pemuka adat, pengalaman praktisi budaya, serta rekaman pemerintah dan lembaga yang pernah menangani bangunan tersebut.
Dekonstruksi untuk Membaca Kembali Warisan Budaya
Melalui pendekatan dekonstruksi, penelitian berupaya membaca secara kritis berbagai penjelasan yang selama ini melekat pada ornamen dan arsitektur Masjid Agung Pondok Tinggi.
Informasi yang diwariskan masyarakat tidak serta-merta diterima sebagai satu-satunya rujukan, tetapi dibaca bersama bukti visual, perubahan material, riwayat renovasi, dokumentasi lama, keterangan masyarakat, dan sumber sejarah lainnya. Pendekatan ini diperlukan untuk membedakan pengetahuan yang masih dapat ditelusuri dasarnya, penafsiran yang berkembang di masyarakat, serta pemaknaan baru yang muncul seiring perubahan zaman.
Dengan demikian, FGD diharapkan tidak hanya memperkuat dokumentasi mengenai Masjid Agung Pondok Tinggi, tetapi juga menghasilkan data yang lebih lengkap mengenai hubungan antara arsitektur, ornamen, adat, Islam, sejarah, pertukangan, perubahan material, kehidupan sosial, dan pelestarian.
Penelitian ini menempatkan ornamen bukan sekadar sebagai unsur penghias bangunan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang masyarakat Pondok Tinggi dalam membangun, menggunakan, memelihara, dan memberikan makna terhadap masjid dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Masjid Agung Pondok Tinggi sebagai salah satu peninggalan penting arsitektur tradisional di Sungai Penuh membutuhkan upaya pelestarian yang tidak hanya berorientasi pada keberlangsungan fisik bangunan, tetapi juga pada pendokumentasian pengetahuan dan nilai yang berada di baliknya.
Karena itu, keterlibatan masyarakat, pemuka adat, pengurus masjid, pemerintah, akademisi, dan generasi muda menjadi bagian penting agar pengetahuan mengenai Masjid Agung Pondok Tinggi tetap hidup, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang
