Malam Tradisi Solok Selatan

Padangpanjang- Sanggar Tak Kondai hadir dalam rangka memeriahkan perhelatan Dies Natalis ISI Padangpanjang ke-52 (30/11) di Gedung Pertunjukan Hoeridjah Adam ISI Padangpanjang. Sanggar Tak Kondai yang berasal dari Kecamatan Sungai Pabu, Kabupaten Solok Selatan ini menampilkan kesenian tradisi yang ada dari Solok Selatan, yaitu: gandang sarunai, tari Malentang Piriang, dan acara turun mandi bayi. Pertunjukan gandang sarunai merupakan bagian dari tari Malentang Piriang. Pada segi musik, pertunjukan tradisi ini terdiri dari 3 orang memainkan gondang dan dilanjutkan dengan gontong-gontong kreasi lebih dari 3 orang dan diiringi dengan nyanyian bersama.

Ramdani selaku pemain sarunai menjelaskan, “nyanyian yang dibawakan pada gandang sarunai adalah Sarai Sarumpun, dan dendang Parasain Hidup. Dendang ini biasanya dinyanyikan saat istirahat atau menyiang padi di sawah diiringi nyanyian gembira dan jenaka yaitu si Jobak, dan si Jogi-jogi. Setelah nyanyian akan dilanjutkan dengan pantun untuk memulai tari. Tari Malentang Piriang merupakan tari tradisi asli dari Solok Selatan. Pertunjukan yang dibawakan oleh iciak-iciak, amak-amak, ayek dan pak unsu ini hadir karena berkeinginan manjapuik nan tatingga, mangumpua nan taserak “.

Tari Malentang Piriang diiringi dengan bunyi-bunyian gontong dan gandang sarunai dengan gerakan sederhana yang terinspirasi dari alam, seperti: bajalan di pamatang sawah manjujuang nasi. Pada pertunjukan ini dikreasikan dengan gerakan berjalan oleng di atas piring kaca sambil menjunjung bokau. Gerakan tari Malentang Piriang ini adalah gerakan jalan perempuan yang lembut tapi tegas. Mengayun tangan seiring lenturan pada kaki atau ayunan tubuh, bahu, dan lutut.

Penampilan terakhir yang disajikan oleh kelompok ini adalah acara turun mandi anak bayi. Ramdani menjelaskan, “acara turun mandi merupakan acara tradisi yang dilakukan masyarakat Solok Selatan pada zaman dahulu, sedangkan pada saat sekarang ini hanya sebagian kecil masyarakat yang mengadakannya. Hal ini yang mendorong kami untuk mempertunjukkan ke masyarakat ramai, dengan harapan acara turun mandi tetap dikenal dan dilestarikan” jelas Ramdani.

Acara turun mandi anak bayi dipandu oleh seorang dukun beranak bako, keluarga terdekat dan tetangga. Setelah selesai peniduran bayi yang didendangkan oleh dukun dibuai oleh bako kemudian ditutup oleh do’a selamat dan diarak dengan membawa rebana dan gontong, kemudian balihuhuak atau dompiang.

Erfaliza selaku anggota sanggar menuturkan, “ucapan terimakasih untuk ISI Padangpanjang, terutama Ibu Lora yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk tampil di gedung yang megah ini”, ucapnya dengan suka cita.

Penulis : Puja

Dokumentasi UPT Pusindok SBM