KERJASAMA DENGAN LEMBAGA SENSOR FILM, ISI PADANGPANJANG GELAR SEMINAR

Padangpanjang—Sensor mandiri seharusnya menjadi kesadaran seluruh masyarakat perfilman secara merata. Hal itu terungkap dalam seminar sosialisasi budaya sensor mandiri yang digelar oleh Jurusan Televisi dan Film, Institut Seni Indonesia Padangpanjang bekerjasama dengan Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumbar dan Lembaga Sensor Film (LSF). Seminar yang berlangsung pada Rabu (31/10) itu menghadirkan narasumber Imam Suharjo dari LSF dan Suharman selaku kepala BNPB Sumbar.

Imam Suharjo menjabarkan berkaitan dengan sosialisasi budaya sensor mandiri harus bermula dari senimannya sendiri. “Setiap filmmaker harus punya rambu rambu lewat budaya setempat seperti agama, ulama dan adat istiadat. Juga harus dipahami ketika membuat film untuk siapa film diproduksi yang paling utama harus bisa memahami filosofi dari tema film yang akan diangkat dengan mempedomani etika dan estetika  film, karena secara visual dan naratifnya menyangkut hal yang sensitif,” sebutnya.

Sementara itu, Suharman menghimbau berkaitan dengan banyaknya potensi seni budaya di wilayah Sumbar, yang bisa menjadi salah satu tema yang dapat diangkat kedalam film sebagai salah satu upaya untuk usaha pelestarian seni dan budaya dari lisan ke dalam bentuk media audio visual. “Kekayaan budaya lokal kita cukup besar dan patut dijadikan sebagai sumber penciptaan karya film termasuk bagi para akademisi dan mahasiswa ISI Padangpanjang,” katanya.

Kaprodi Televisi dan Film Rosta Minawati mengharapkan dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut prodi televisi dan film dapat menjalin kerjasama dengan beberapa pihak yang terkait dengan dunia pertelevisian dan perfilman dari kalangan instansi, pelaku industri dan yang lainnya.  “Kegiatan ini juga menjadi pemanasan bagi Prodi Televisi dan Film FSRD ISI Padangpanjang yang dilaksanakan pada tanggal 7-8 November 2018 (Minang Film Festival) Miffest #2” katanya.

Terpisah, rektor ISI Padangpanjang Prof Novesar Jamarun menghaturkan terimakasih kepada pihak LSF dan BNPB Sumbar yang telah turut mendukung kegiatan Jurusan Televisi dan Film di Institut yang ia pimpin. “Mengingat tingginya tingkat kreatifitas mahasiswa dan dosen dalam menciptakan produk film, berbagai hal terkait dengan regulasi seperti terkait sensor film tentu perlu untuk diketahui. Dan bahkan kami berharap justru para film maker kita lah yang akan menjadi garda terdepan bagi upaya sosialisasi sensor mandiri ini nantinya,” katanya.

Menurut rektor, kehadiran ISI Padangpanjang sebagai sokoguru penciptaan karya film menjadi sangat strategis sebagai mitra bagi pemerintah, terutama lembaga seperti LSF. “Semoga kerjasama ini terus berlanjut. Dan kami akan selalu membuka pintu selebar-lebarnya bagi berbagai instansi pemerintah maupun lembaga swasta yang berkepentingan dengan dunia perfilman untuk bekerjasama dengan ISI Padangpanjang,” terangnya. (Fadhli)