ISI PADANGPANJANG BINA KERAJINAN BATIK NAGARI TUO PARIANGAN

Tanah Datar— Luhak Nan Tuo dikenal dengan kearifan budaya dengan berbagai produk kerajinan tradisionalnya. Untuk semakin memberdayakan masyarakat dalam hal kerajinan ini, ISI Padang Panjang turut andil dalam membagi keterampilan melalui program pengabdian pada masyarakat. Terbaru, kegiatan dipusatkan di kawasan Nagari Pariangan, sebuah nagari tertua di Sumatera Barat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh tim Dosen yang  diketuai oleh Hamdan Akromullah, S.Ag.,M.Hum dan anggotanya adalah Hendra dan Olvyanda Ariesta.

Hendra mengatakan, kerajinan yang diajarkan pada masyarakat dalam program ini adalah kerajinan batik. “kegiatan ini terselenggara melalui hibah Program Kemitraan Masyarakat Direktorat Jenderal Pengabdian Masyarakat Kemenristek DIKTI. Selain dosen, kami juga melibatkan dua orang mahasiswa dalam tim ini,” katanya.

Selama pelaksanaan kegiatan peserta yang terdiri dari pengrajin UKM batik Pariangan terlihat sangat antusias dan bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini. “Apalagi mereka dikenalkan dengan teknik baru pembuatan produk batik seperti baju kaos batik, sandal batik dan sepatu batik. Mereka menikmati setiap proses pembuatan produk sampai menghasilkan produk souvenir yang menarik,” lanjut Hendra.

Selain proses membatik, kepada para peserta juga diajarkan cara memasarkan produk dengan memanfaatkan internet. “Pasar online sangat potensial untuk meningkatkan penjualan produk kerajinan kita yang khas. Maka dalam pelatihan ini kami juga mengajarkan cara membuat berbagai konten promosi yang menarik bagi para pengrajin ini,” sebut Olvyanda.

Sementara itu, rektor ISI Padang Panjang Prof Novesar Jamarun mengatakan, kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan proses pengabidan pada masyarakat saat ini lebih banyak difokuskan pada sektor pemberdayaan. “Kerajinan merupakan salah satu produk lokal yang banyak diminati dari Sumatera Barat. Karena itu kami sangat mendukung apabila ada dosen atau mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan pemberdayaan untuk masyarakat yang bergerak dibidang ini,” katanya.

Kerajinan menurut rektor juga merupakan sektor yang tak lapuk oleh waktu karena model dan desainnya yang terus berkembang. “Jadi, kita berharap begitu program yang diusung para dosen atau mahasiswa kita selesai, masyarakat tidak serta merta berhenti pula. Apa yang diajarkan harus terus dilanjutkan. Karenanya, kita ingin materi yang diberikan itu memancing kreatifitas yang sifatnya berlanjut. Sehingga, masyarakat bukan sekedar melanjutkan, tetapi malah mengembangkan sehingga mereka tidak terhenti begitu saja,” katanya.

Pelatihan yang sudah dimulai sejak Juli lalu, kini tampak telah membuahkan hasil. Para pengrajin semakin bersemangat dalam berproduksi, dan minat pasar pun semakin kuat. (Fadhli-Humas/Pusindok)